Home > Penelitian PKn > PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA TERHADAP POLA ASUH ANAK PADA MASYARAKAT DESA CAMPUREJO KECAMATAN BOJA KABUPATEN KENDAL

PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA TERHADAP POLA ASUH ANAK PADA MASYARAKAT DESA CAMPUREJO KECAMATAN BOJA KABUPATEN KENDAL

abstraks:

Keluarga adalah lingkungan pendidikan pertama anak. Cara mendidik dalam keluarga, mempengaruhi reaksi anak terhadap lingkungan. Tingkat pendidikan orang tua akan berpengaruh pada pola pikir dan orientasi pendidikan anak. Semakin tinggi pendidikan orang tua akan melengkapi pola pikir dalam mendidik anaknya. Permasalahan penelitian adalah apakah ada pengaruh dari tingkat pendidikan orangtua terhadap pola asuh anak di Desa Campurejo? dan seberapa besar pengaruh tingkat pendidikan orang tua terhadap pola asuh anak di Desa Campurejo Kecamatan Boja Kabupaten Kendal? Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan orang tua dan mengetahui besar pengaruh tingkat pendidikan orang tua terhadap pola asuh anak. Pendekatan penelitian kuantitatif jenis korelasional. Populasi penelitian adalah kepala keluarga Desa Campurejo Kecamatan Boja Kabupaten Kendal berjumlah 1452. Sampel dengan rumus Slovin yaitu sejumlah 94 responden. Sampling menggabungkan Teknik area probability dan proporsional secara random. Pengumpulan data dengan dokumentasi dan angket. Hasil uji validitas dan reliabilitas menunjukkan kevalidan dan reliabilitas. Analisa data dengan korelasi product moment, analisis regresi linier dan pengujian nilai F. Hasil perhitungan korelasi sebesar 0,820 berarti terdapat hubungan yang sangat kuat antara tingkat pendidikan orang tua dengan pola asuh anak. Hasil regresi adalah persamaan garis regresi Y = 0,78644068 X + (-7,1944039). Koefisien F regresi 188,2344 lebih besar dari F tabel df 2 α = 5% = 3,94, sehingga tingkat pendidikan orang tua berpengaruh signifikan terhadap pola asuh anak. Kesimpulan penelitian terdapat hubungan yang sangat kuat antara tingkat pendidikan orang tua dengan pola asuh anak. Terdapat pengaruh yang kuat dan signifikan antara tingkat pendidikan orang tua terhadap pola asuh anak. Orang tua dengan tingkat pendidikan yang cenderung rendah lebih memilih pola asuh tipe Laissez Faire atau pola asuh otoriter. Sedangkan orang tua dengan tingkat pendidikan yang cenderung tinggi lebih memilih pola asuh tipe demokratis. Saran : orang tua hendaknya lebih mengerti bahwa pendidikan adalah salah satu hal penting dalam kehidupan, harus dimiliki setiap orang dan digunakan dalam mengasuh dan membina keturunannya, Anak hendaknya mengerti pentingnya pendidikan bagi kehidupan di masa datang. Lembaga pendidikan hendaknya memberikan penekanan dan pembinaan pada siswa agar lebih mementingkan pendidikan.

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat menentukan bagi perkembangan dan kualitas diri individu, terutama dalam menentukan kemajuan pembangunan suatu bangsa dan negara. Tingkat kemajuan suatu bangsa tergantung kepada cara bangsa tersebut mengenali, menghargai dan memanfaatkan sumber daya manusia yang berkaitan erat dengan kualitas pendidikan yang diberikan kepada calon penerus dan pelaksana pembangunan.
Lembaga pendidikan merupakan lembaga yang bertanggung jawab dan berkompetensi penuh atas proses pendidikan. Lembaga pendidikan wajib menye¬diakan berbagai fasilitas dan memenuhi kebutuhan peserta didiknya dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Keluarga adalah merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Di lingkungan keluarga pertama-tama anak mendapat pengaruh, karena itu keluarga merupakan lembaga pendidikan tertinggi yang bersifat informal dan kodrat (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1989:8}. Pada keluarga inilah anak mendapat asuhan dari orang tua menuju ke arah perkembangannya.
Keluarga adalah suatu kelompok dari orang-orang yang disatukan oleh ikatan perkawinan dan mempunyai hubungan darah. Dari kecil, anak dipelihara dan dibesarkan oleh dan dalam keluarga. Segala sesuatu yang ada dalam keluarga, baik yang berupa benda-benda dan orang-orang serta peraturan-peraturan dan adat istiadat yang berlaku dalam keluarga itu sangat berpengaruh dan menentukan corak perkembangan anak-anak. Bagaimana cara mendidik yang berlaku dalam keluarga itu. Demikianlah cara anak itu mereaksi terhadap lingkungannya. Ayah dan ibu dalam konteks kehidupan keluarga yang ideal, merupakan sosok yang paling dekat dengan anak. Ayah dan ibu merupakan pengambil peran utama sebagai orang tua untuk mengasuh anak-anaknya. Terutama kedekatan anak terhadap ibu, karena ibunya yang mendukung, melahirkan dan menyusui sehingga secara psikologis mempunyai ikatan yang lebih dalam.
Keluarga bagi seorang anak merupakan lembaga pendidikan non formal pertama, di mana mereka hidup, berkembang, dan matang. Di dalam sebuah keluarga, seorang anak pertama kali diajarkan pada pendidikan. Dari pendidikan dalam keluarga tersebut anak mendapatkan pengalaman, kebiasaan, ketrampilan berbagai sikap dan bermacam-macam ilmu pengetahuan. Di samping itu keluarga merupakan lembaga pendidikan yang membekali anak dengan berbagai pengalaman sosial dan nilai moral. Keluarga merupakan lingkungan yang juga ikut berpengaruh bagi anak sebagai individu dalam proses terbentuknya sikap, selain lingkungan pendidikan sekolah dan masyarakat.
Pada dasarnya, semua orang tua menghendaki putra-putri mereka tumbuh menjadi anak yang baik, cerdas, patuh, dan terampil. Selain itu, banyak lagi harapan lainnya tentang anak yang kesemuanya berbentuk sesuatu yang positif. Pada posisi lain, setiap orang tua berkeinginan untuk mendidik anaknya secara baik dan berhasil. Mereka berharap mampu membentuk anak yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, berbakti pada orang tua, berguna bagi dirinya, keluarga, masyarakat, nusa bangsa-negara juga bagi agamanya serta anak yang cerdas memiliki kepribadian yang utuh.
Sejak lahir anak dididik dengan cara yang baik dan benar, dihindarkan dari kesalahan dalam mengasuh dan mendidik, baik kesalahan yang diperbuat oleh orang tuanya maupun oleh lingkungan sekitamya. Orang tua mencoba sedapat mungkin membantu anak-anak mereka agar memperoleh segala hal yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhannya. Orang tua bukan saja merasa tidak bahagia karena jarang mempunyai waktu untuk bersama dengan anak-anak mereka, tetapi mungkin ada yang merasa bahwa waktu bekerja khususnya yang ditujukan bagi pemenuhan kebutuhan juga biasanya menuntut lebih banyak waktu dari pada yang diberikan untuk anak mereka. Selain itu, pembiayaan untuk mendidik dan mengasuh anak di luar keluarga ternyata cukup tinggi.
Pola kekeluargaan manusia sebagian ditentukan oleh tugas khusus yang dibebankan kepadanya. Keluarga itu adalah satu-satunya lembaga sosial yang diberi tanggung jawab untuk mengubah suatu organisme biologis menjadi manusia. Pada saat sebuah lembaga keluarga mulai membentuk kepribadian seseorang dalam hal-hal penting, keluarga tentu banyak berperan dalam persoalan perubahan itu, dengan mengajarnya berbagai kemampuan dan keterampilan serta penanaman fungsi-fungsi sosial.
Tidak dapat disangkal lagi betapa pentingnya pendidikan dalam lingkungan keluarga bagi perkembangan anak-anak menjadi manusia yang berperibadi dan berguna bagi masyarakat. Tentang pentingnya pendidikan dengan lingkungan keluarga itu telah dinyatakan oleh banyak ahli didik dari zaman yang telah mampu. J.J. Rousseau (1712 – 1778) dalam Syafei. S. M, (2006 : 12), sebagai salah seorang pelopor ilmu jiwa anak, mengutarakan pula betapa pentingnya pendidikan keluarga itu.
Dengan demikian kehidupan keluarga dan lingkungan masyarakat sekitarnya mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam membentuk budi pekerti dan watak seorang anak. Hal ini disebabkan karena lingkungan merupakan satu komponen dalam sistem pendidikan yang ikut menentukan keberhasilan proses pendidikan. Ada pepatah Jawa yang mengatakan, “Kebo gupak neler-neler (orang yang jahat akan mempengaruhi orang lain yang ada di dekatnya untuk berbuat jahat), Wong kang alim kumpulono (berkumpullah dengan orang yang berilmu).
Lingkungan secara umum diartikan sebagai satu kesatuan ruangan dengan semua benda, daya dan keadaan dan makhluk hidup lainnya. Orang tua atau pengganti orang tua yang menjadi pendidik dalam pendidikan keluarga. Orang tua dalam hal ini dikatakan sebagai pendidik dalam pendidikan keluarga karena kodrati. Sebab utamanya adalah karena hubungan dengan kependidikan bersifat cinta kasih (Kunaryo Hadi Kusumo, 1996 : 62 –64 ).
Sebagian besar keluarga dapat dikatakan sebagai keluarga inti. Keluarga inti didefinisikan sebagai kelompok yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak yang belum menikah. Jika dalam keluarga terjadi kesenjangan hubungan, perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas dan intensitas hubungan sehingga ketidakberadaan ayah dan ibu dan kebersamaan keluarga di rumah tetap dirasakan kehadirannya dan dihayati secara psikologis. Ini diperlukan agar pengaruh, arahan, bimbingan, dan sistem nilai yang direalisasikan orang tua senantiasa tetap dihormati, mewarnai sikap dan pola perilaku anak-anaknya (Moh. Rossid, 2004 : 12– 13).
Pendidikan orang tua terhadap anak-anaknya adalah pendidikan yang didasarkan pada rasa kasih sayang terhadap anak-anak, dan yang diterimanya dari kodrat. Orang tua adalah pendidik sejati, pendidik karena kodratnya. Oleh karena itu, kasih sayang orang tua terhadap anak-anak hendaklah kasih sayang yang sejati pula. Yang berarti pendidik atau orang tua mengutamakan kepentingan dan kebutuhan anak-anak dengan mengesampingkan keinginan dan kesenangan sendiri.
Dalam hal ini, hendaknya kita harus ingat pula bahwa pendidikan berdasarkan kasih sayang saja kadang-kadang mendatangkan bahaya. Kasih sayang harus dijaga jangan sampai berubah menjadi memanjakan. Kasih sayang harus dilengkapi dengan pandangan yang sehat tentang sikap kita terhadap anak. Lebih berbahaya lagi bagi pertumbuhan jiwa anak-anak jika kasih sayang itu disertai kekhawatiran orang tua. Banyak orang tua yang merasa khawatir kalau anaknya akan terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya yang penuh dengan kesukaran dan bahaya, serta hal-hal yang kotor. Mereka menahan anak-anaknya supaya di rumah saja tidak boleh bermain atau bergaul dengan anak-anak lain.
Dalam mendidik anak agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan yaitu mengantarkan anak pada tahapan perkembangan sesuai dengan pertambahan usia dan tugas perkembangannya secara utuh dan optimal. Namun hal tersebut banyak dipengaruhi oleh berbagai hal. Salah satu di antaranya adalah latar belakang pendidikan yang memberikan dampak bagi pola pikir dan pandangan orang tua terhadap cara mengasuh dan mendidik anaknya.
Sehubungan dengan tingkat pendidikan orang tua akan memberikan pengaruh terhadap pola berpikir dan orientasi pendidikan yang diberikan kepada anaknya. Semakin tinggi pendidikan yang dimiliki oleh orang tua maka akan semakin memperluas dan melengkapi pola berpikirnya dalam mendidik anaknya. Kondisi yang berupa latar belakang pendidikan orang tua merupakan satu hal yang pasti ditemui dalam pengasuhan anak. Demikian pula terjadi di Desa Campurejo, di mana tingkat pendidikan orang tua sebagian besar merupakan lulusan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama, bahkan banyak yang tidak sampai tamat dalam mengikuti pendidikan formal.
Berdasarkan kondisi latar belakang pendidikan orang tua yang sedemikian, menyebabkan pola berfikir orang tua di desa Campurejo masih cenderung tradisional dan kolot. Orientasi berfikir orang tua di Desa Campurejo mengenai jumlah anak dalam keluarga menganut falsafah Jawa kuno bahwa banyak anak banyak rejeki. Untuk masa dahulu memang ada baiknya, karena dengan basis pertanian dan kepemilikan lahan yang luas, semakin banyak anak berarti semakin banyak tenaga kerja yang dapat membantu dalam pengolahan lahan. Namun pola berfikir seperti itu, jika diterapkan untuk saat sekarang ini, sangat tidak cocok mengingat saat ini tidak semua orang tua memiliki lahan dan orientasi penghidupan sudah beralih dari agraris ke arah industri.
Berbagai ketidakserasian hubungan antara anak dan orang tua mengakibatkan terjadinya gesekan-gesekan yang mengarah pada ketidakharmonisan hubungan. Terjadinya krisis hubungan yang melibatkan antara orang tua dan anak sebagian besar disebabkan karena ketidakbijaksanaan orang tua dalam menerapkan pola asuh kepada anaknya. Untuk mencegah ketidakharmonisan hubungan antara orang tua dan anak, sebagai orang tua harus mengetahui bagaimana cara yang baik untuk membawa sang anak mencapai masa depan dengan menempuh jalan yang terbaik (Tjerje Yusuf 1980 : 16 – 17).
Kondisi tersebut sering terjadi pada keluarga menengah ke bawah atau kebanyakan karena minimnya pendidikan orang tua mempengaruhi pola asuh terhadap anak-anak mereka. Betapa besarnya kecintaan tiap-tiap orang tua kepada anaknya memang sukar untuk mencari tolok bandingnya. Segala sesuatu yang mereka lakukan baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai sama sekali dengan alam dan jaman adalah semata-mata demi kepentingan seorang anak. Kurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya yang sedang senang mengadakan eksperimen, juga akan memupuk sifat negatif yang cenderung menjauhi arah perkembangan ideal yang diharapkan.
Melihat pada latar belakang tersebut mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul : “Pengaruh Tingkat Pendidikan Orang Tua terhadap Pola Asuh Anak pada Masyarakat Desa Campurejo Kecamatan Boja Kabupaten Kendal”.

B. Penegasan Istilah
Maksud dan penegasan istilah adalah untuk menghindari kemungkinan salah tafsir dalam pemahaman penulisan ini. Oleh karena itu perlu ada penegasan terhadap istilah yang digunakan dalam judul penelitian sehingga akan diperoleh kesatuan pandangan sebagai titik tolak untuk pemahaman selanjutnya. Berdasarkan judul Pengaruh Tingkat Pendidikan Orang Tua terhadap Pola Asuh Anak pada Masyarakat Desa Campurejo Kecamatan Boja Kabupaten Kendal akan diperinci beberapa istilah yang perlu dijelaskan antara lain :
1. Pengaruh
Menurut Arikunto (1998 : 31) pengaruh merupakan suatu bentuk hubungan korelasional di mana antara keadaan atau variabel satu dengan yang lain mempunyai hubungan sebab akibat, keadaan yang pertama diperkirakan menjadi penyebab atau berpengaruh bagi keadaan yang kedua. Pengertian pengaruh dalam penelitian ini adalah bentuk hubungan antara variabel tingkat pendidikan orang tua yang menjadi sebab atau berpengaruh bagi pola asuh anak. Dengan demikian diperkirakan antara variabel tingkat pendidikan orang tua dan pola asuh anak mempunyai hubungan sebab akibat.
2. Tingkat Pendidikan
Tingkat adalah jenjang, strata atau tata urut (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1996 : 856).
Pendidikan dengan berdasarkan asal usul kata diartikan sebagai segala sesuatu yang mengacu pada cara melakukan perbuatan yang mendidik atau membina (Purwodarminto, 1990: 263).
Pendidikan adalah usaha sadar (UU Nomor 2 tahun 1989 pasal 1 ayat 1)
Pendidikan merupakan proses mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk-bentuk perilaku lainnya di masyarakat sebagai proses sosial di mana individu dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol sehingga dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimal (Kunaryo, 1996 : 19).
Tingkat pendidikan yang dimaksud dalam penelitian adalah jenjang pendidikan atau pelatihan yang diperoleh melalui lembaga pendidikan formal.
3. Pola asuh
Pengertian pola asuh menurut Darling (1999) adalah aktivitas kompleks yang melibatkan banyak perilaku spesifik yang bekerja secara individual dan bersama-sama untuk mempengaruhi anak.
Sedangkan menurut Huxley (2002) pola asuh merupakan cara di mana orangtua menyampaikan / menetapkan kepercayaan mereka tentang bagaimana menjadi orangtua yang baik atau buruk.
Sementara itu Gunarsa (1995) bahwa pola asuh merupakan cara orangtua bertindak sebagai orangtua terhadap anak-anaknya di mana mereka melakukan serangkaian usaha aktif.
Menurut Suardiman (1983 : 22) memberikan pengertian bahwa pola asuh adalah cara mengasuh anak, usaha memelihara, membimbing, membina, melindungi anak untuk kelangsungan hidupnya.
Berdasarkan pada beberapa pengertian tersebut maka yang dimaksud pola asuh dalam penelitian ini adalah cara orangtua bertindak sebagai suatu aktivitas kompleks yang melibatkan banyak perilaku spesifik seara individual atau bersama-sama sebagai serangkaian usaha aktif untuk mengarahkan anaknya.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada uraian latar belakang dalam bagian sebelumnya, maka pokok permasalahan dalam penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah ada pengaruh dari tingkat pendidikan orangtua terhadap pola asuh anak di Desa Campurejo Kecamatan Boja Kabupaten Kendal ?
2. Seberapa besar pengaruh tingkat pendidikan orang tua terhadap pola asuh anak di Desa Campurejo Kecamatan Boja Kabupaten Kendal?

D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini mempunyai tujuan antara lain :
1. Untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan yang dimiliki orang tua terhadap pola asuh anak di Desa Campurejo Kecamatan Boja Kabupaten Kendal.
2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat pendidikan orang tua terhadap pola asuh anak di Desa Campurejo Kecamatan Boja Kabupaten Kendal.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara praktis maupun secara teoritis antara lain adalah :
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap pengembangan teori dan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan pola asuh anak.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi orang tua dan anak.
a. Bagi orang tua
Hasil ini dapat memberikan gambaran akan pentingnya pendidikan dan pola asuh yang diterapkan pada anak.
b. Bagi anak
Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran akan pentingnya kesadaran akan pendidikan dan bentuk pola asuh yang digunakan orang tua kepada anaknya.

F. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pemahaman dan menelaah hasil penelitian dalam penulisan ini maka skripsi ini disusun dalam sistematika sebagai berikut :
Bagian pendahuluan berisi : halaman judul, halaman persetujuan, halaman pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar lampiran dan abstrak
Bagian isi merupakan merupakan bagian pokok skripsi yang terdiri dari bab-bab. Lebih terinci pembagian bab tersebut dibagi menjadi Bab I berisi pendahuluan yang terdiri dari : latar belakang masalah, penegasan istilah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan. Kemudian Bab II landasan teori dan hipotesis. Pada landasan teori terdiri dari pengertian pola asuh, bentuk-bentuk pola asuh, peran orang tua dalam keluarga, pengertian pendidikan, pendidikan secara umum, dan Hipotesis.
Bab III metodologi penelitian yang meliputi tempat dan waktu, pendekatan dan jenis penelitian, populasi dan sampling, variabel penelitian, metode pengumpulan data, validitas dan reliabilitas, dan tehnik analisa data.
Bab IV Hasil penelitian dan Pembahasan yang berisi deskripsi hasil penelitian, Uji Hipotesis dan Pembahasan. Sedangkan bagian terakhir penelitian merupakan penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

About these ads
Categories: Penelitian PKn
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: